BAB 1 : PERILAKU ORGANISASI
DEFINISI PERILAKU ORGANISASI
Studi tersebut mencakup pembahasan tentang aspek yang ditimbulkan dari pengaruh organisasi terhadap manusia yang bekerja di dalamnya; juga aspek yang ditimbulkan dari pengaruh manusia terhadap organisasi dimana mereka berada.
Tujuannya memperlancar upaya pencapaian tujuan organisasi.
Unsur utama perilaku organisasi :
a) Pandangan Psikologi
b) Pandangan Ekonomi
c) Pandangan bahwa individu dipengaruhi aturan organisasi dan pemimpinnya
d) Pandangan tentang penekanan kepada tuntutan manajer untuk mencapai tujuan organisasi
Faktor - faktor yang mempengaruhi perilaku organisasi :
Peningkatan produktifitas
Organisasi dikatakan produktif jika tujuan dapat dicapai dan proses pencapaian tersebut dilakukan dengan merubah masukan menjadi keluaran dengan biaya yang paling rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa produktifitas berhubungan dengan keefektifan dan keefisienan.
Pengurangan kemangkiran
Kemangkiran adalah tindakan tidak masuk kerja tanpa alasan. Tingkat kemangkiran yang tinggi dapat berdampak langsung pada keefektifan dan efisiensi organisasi.
Penurunan Turn Over
Turn over adalah pengunduran diri secara permanen dari organisasi.
Peningkatan kepuasan kerja
Kepuasan kerja adalah perbedaan antara banyaknya ganjaran yang diterima karyawan dan banyaknya yang mereka yakini harus mereka terima. Karyawan dikatakan merasakan puas bila perbedaan bernilai positif secara perhitungan matematis.
Perilaku organisasi merupakan suatu bidang studi yang menyelidiki dampak perorangan, kelompok, dan struktur pada perilaku dalam organisasi dengan maksud menerapkan pengetahuan semacam itu untuk memperbaiki keefektifan organisasi. Apa yang dipelajari, yaitu bagaimana perilaku perorangan (individu) kelompok struktur.
Perilaku organisasi mempunyai tiga dimensi konsep, yaitu :
1) Dimensi Konsep
Dimensi konsep mencakup ilmu pngetahuan, sosiologi, antropologi budaya, dan seluaruh elemen sosial yang mempengaruhi berdirinya ilmu pengetahuan yang saling berkaitan.
2) Dimensi Sistem
Dimensi sistem mencakup bagaimana proses manajemen yang dilakukan untuk melakukan suatu kegiatan secara efektif dan efisien yang di kemas dengan pendekatan-pendekatan matematis atau logika.
3) Dimensi Manusia
Dimensi manusia adalah faktor penentu dalam organisasi yang tercermin dari ilmu psikologi. karena, adanya organisai adalah adanya manusia.
Ketiga dimensi diatas mencakup filosofi dasar lahirnya ilmu perilaku organisai yang terdiri dari muliti disiplin ilmu (antroplogi kultural, sosiologi, psikologi dan manjemen) sehingga dengan penedekatan ilmu-ilmu tersebut perilaku organisai dapat dibahas. Dalam tataran konsep ilmu ini membahas seluruh kegiatan organisai yang di dalamnya terdapat perilaku manusia, budaya, sosial dan sistem yang mendukung adanya organisasi tersebut. sehingga antara manusia dan organisasi dapat saling mempengaruhi
PENDEKATAN STUDI PERILAKU ORGANISASI
Perdekatan yang menandai perkembangan awal dari studi perilaku yang merupakan pendekatan perspektif teoritis-makro, yakni :
a) Pendekatan tradisional
Tokoh-tokoh dalam pendekatan tradisional seperti W. Taylor dan Max Weber. Pendekatan tradisional memberikan kontribusi dalam studi manajemen antara lain :
- Telah mengenalkan teori-teori rasional yang sebelumnya belum ada,
- Memusatkan perhatian pada peningkatan produktifitas dan kualitas
- Menyediakan mekanisme administratif yang sesuai bagi organisasi,
- Penerapan pembagian kerja,
- Meletakkan landasan mengenai efisiensi metode kerja dan organisasi,
- Mengembangkan prinsip-prinsip yang umum dalam manajemen.
Pendekatan ini kemudian banyak ditinggalkan karena hanya menekankan aturan-aturan formal, spesialisasi, pembagian tanggung jawab yang jelas dengan member perhatian relatif kecil terhadap arti penting personal dan kebutuhan sosial dari individu-individu yang berada dalam organisasi.
b) Pendekatan hub.kerja kemanusiaan (human relation approach)
Tokoh-tokoh dalam pendekatan ini seperti Elton Mayo. Pendekatan hubungan kerja kemanusiaan memberikan beberapa sumbangan pemikiran dan hipotesisi baru, antara lain
- Secara eksplisit pertama kali mengenalkan peranan dan pentingnya hubungan interpersonal dalam perilaku kelompok,
- Secara kritis menguji kembali hubungan antara gaji dan motifasi,
- Mempertanyakan anggapan bahwa masyarakat merupakan kelompok individu yang berusaha untuk memaksimalkan pemenuhan kepentingan personalnya,
- Menunjukkan bagaimana sistem teknis dan sistem sosial saling berhubungan,
- Menunjukkan hubungan antara kepuasan kerja dan produktifitas.
Kelemahan pendekatan ini adalah :
- Mengesampingkan pengaruh struktur organisasi terhadap perilaku individu,
- Memandang organisasi sebagai sistem tertutup dan mengabaikan kekuatan lingkungan politik, ekonomi, dan lingkungan yang lain,
- Tidak menjelaskan pengaruh kesatuan kerja terhadap sikap dan perilaku individu,
- Meremehkan motifasi keinginan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan dan kesadaran sendiri berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan,
- Memusatkan perhatian pada pengaruh kelompok kecil namun mengabaikan pengaruh struktur sosial yang lebih luas.
c) Pendekatan perilaku organisasi (organizational behavior approach)
Tokoh-tokoh dalam pendekatan ini adalah Thoha dan Gibson. Thoha menyatakan bahwa perilaku organisasi adalah secara langsung berhubungan dengan pengertian, ramalan, dan pengendalian terhadap tingkah laku orang-orang dalam organisasi dan bagaimana sperilaku orang-orang tersebut mempengaruhi usaha pencapaian tujuan organisasi. Sedangkan menurut Gibson pendekatan perilaku organisasi adalah :
- Way of thinking
Tingkat analisis pada level individu, kelompok, dan organisasi.
- Interdisciplinary field
Memanfaatkan berbagai disiplin, model, teori, dan metode dari disiplin yang ada.
- Humanistic orientation
Manusia dan segala sikap, perilaku, persepsi, kapasitas, perasaan, dan tujuan merupakan nilai utama.
- Performance oriented
Selalu mengarah pada performance.
- External environment
Lingkungan eksternal mempunyai pengaruh terhadap perilaku organisasi.
- Metode ilmiah (scientific method)
- Application orientation
Memusatkan perhatian pada untuk menjadwal berbagai permasalahan yang muncul dalam konteks manajemen organisasi.Perenan
LINGKUP PERILAKU ORGANISASI
MODEL 3 LEVEL (S.P. ROBIN)
Mempelajari perilaku manusia dalam organisasi melalui tiga tingkatan analisis.
Tingkatan Individu : karakteristik bawaan individu dalam organisasi.
Tingkatan Kelompok : dinamika perilaku kelompok dan faktor-faktor determinannya
Tingkatan Organisasi : faktor-faktor organizational yang mempengaruhi perilaku.
BAB 2 : Dasar- Dasar Perilaku Individu
PENDAHULUAN
Manusia adalah salah satu dimensi penting dalam organisasi. Kinerja organisasi sangat tergantung pada kinerja individu yang ada di dalamnya. Individu yang menentukan keberhasilan seluruh pekerjaan dalam perusahaan adalah karyawan itu sendiri. Sehingga berbagai upaya meningkatkan produktivitas perusahaan harus dimulai dari perbaikan produktivitas karyawan. Oleh karena itu, pemahaman tentang perilaku organisasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan kinerja karyawan.
Karyawan sebagai individu ketika memasuki perusahaan akan membawa kemampuan, kepercayaan pribadi, pengharapan-pengharapan, kebutuhan dan pengalaman masa lalunya sebagai karakteristik individualnya. Oleh karena itu, saat kita mengamati karyawan baru di kantor, ada yang terlampau aktif, maupun yang terlampau pasif. Hal ini dapat dimengerti karena karyawan baru biasanya masih membawa sifat-sifat karakteristik individualnya. Selanjutnya karakteristik ini akan berinteraksi dengan tatanan organisasi seperti: peraturan dan hirarki, tugas-tugas, wewenang dan tanggung jawab, sistem kompensasi dan sistem pengendalian. Hasil interaksi tersebut akan membentuk perilaku-perilaku tertentu individu dalam organisasi. Oleh karena itu penting bagi manajer untuk mengenalkan aturan-aturan perusahaan kepada karyawan baru. Misalnya dengan memberikan masa orientasi.
DASAR-DASAR PERILAKU INDIVIDUAL
Kecerdasan adalah salah satu karakteristik yang dibawa indiviu ketika mereka bergabung dalam suatu organisasi. Perbedaan individu terdapat dalam bentuk kemampuan, di mana kemampuan itu merupakan kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. Kemampuan itu sendiri terdiri dari kemampuan intelektual, kemampuan fisik, dan kesesuaian antara pekerjaan dengan kemampuan.
Karyawan dituntun untuk memiliki kemampuan intelektual yang tinggi. Yang dimaksud dengan kemampuan intelektual ini adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan kegiatan mental (berpikir, nalar, dan memecahkan masalah). Ada banyak tes yang dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan intelektual seseorang, seperti : tes IQ, SAT, ACT, GMAT, LSAT, dan MCAT. Ada 7 dimensi yang membentuk kemampuan intelektual seseorang, yaitu:
1. Kecerdasan Angka, yaitu kemampuan melakukan aritmatika dengan cepat dan akurat.
2. Pemahaman Verbal, yaitu kemampuan memahami apa yang dibaca atau didengar dan hubugan anatara kata-kata.
3. Kecepatan Persepsi, yaitu kemampuan mengidentifikasi kemiripan dan perbedan visual dengan cepat dan akurat.
4. Penalaran Induktif, yaitu kemampuan mengidentifikasi urutan logis dalam sebuah masalah dan memecahkan masalah itu.
5. Penalaran Deduktif, yaitu kemampuan menggunkan logika dan menilai implikasi dari sebuah argumen.
6. Visual Spasial, yaitu kemampuan membayangkan bagaimana sebuah objek akan terlihat bila posisi dalam ruangan diubah.
7. Daya Ingat, yaitu kemampuan menyimpan dan mengingat pengalaman masa lalu.
Tes atas semua dimensi diatas akan menjadi prediksi yang tepat untuk menilai kinerja keseluruhan dari seorang karyawan. Setelah kemampuan intelektual, ada yang disebut kemampuan fisik, yaitu kemampuan yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, keterampilan, kekuatan, dan karakteristik lainnya. Kemampuan fisik ini tentu saja disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang dijalankan. Seorang manajer dapat menilai seberapa banyak kemampaun fisik yang harus dimiliki karyawannya. Ada 9 kemampuan fisik dasar yang dikelompokan menjadi 3 faktor yang porsinya dimiliki secara berbeda-beda oleh tiap individu. Tentu saja, porsi yang dituntut oleh tiap jenis pekerjaan juga berbeda-beda. Kemampuan fisik dasar tersebut adalah sebagai berikut:
1. Faktor Kekuatan
a) Kekuatan Dinamis
b) Kekuatan Tubuh
c) Kekuatan Statis
d) Kekuatan Eksplosif
2. Faktor Fleksibilitas
a) Fleksibilitas Luas
b) Fleksibilitas Dinamis
3. Faktor Lain
a) Koordinasi Tubuh
b) Keseimbangan
c) Stamina
Agar kinerja yang baik dapat dicapai, kesesuaian antara pekerjaan dengan kemampuan yang dimiliki karyawan sangat penting. Apabila karyawan kekurangan kemampuan yang disyaratkan, kemungkinan besar mereka akan gagal. Jika karyawan memiliki kemampuan tambahan yang tidak disyaratkan dalam pekerjaan, tentu hal tersebut dapat menjadi nilai tambah. Namun jika jumlah kelebihan jauh melampaui apa yang dibutuhkan pekerjaan, akan ada ketidakefisienan organisasional dan kepuasan karyawan mungkin merosot. Manajer juga mungkin perlu membayar upah yang lebih tinggi atas kelebihan tersebut.
Karakteristik biografis merupakan karakteristik perseorangan yang diperoleh secara mudan dan objektif dari arsip pribadi seseorang, misal usia, jenis kelamin, ras, dan masa jabatan. Karakteristik biografis pada diri individual juga sering dikaitkan dengan kinerja seseorang dalam organisasi. Banyak yang meyakini bahwa ada hubungan-hubungan yang berkaitan dengan, produktivitas, tingkat absensi, perputaran karyawan, tingkat kepuasan kerja, dan lain sebagainya. Berikut ini adalah analisis ,mengenai beberapa karakteristik biografis tersebut:
1. Usia
Hubungan antara usia dan kinerja diperkirakan akan terus menjadi isu yang penting dimasa yang akan datang. Hal ini setidaknya disebabkan oleh 3 alasan, yaitu: keyakinan yang meluas bahwa kinerja menurun seiring dengan usia, realita bahwa angkatan kerja menua, dan mulai adanya perundang-undangan yang melarang segala macam bentuk pensiun yang bersifat perintah. Dalam bekerja, umumnya para pemberi kerja melihat sejumlah kualitas positif seperti pengalaman, pertimbangan, etika kerja, dan komitmen terhadap mutu yang dibawa oleh pekerja lebih tua.
2. Jenis kelamin
Menurut jenis kelamin, secara umumnya tidak ada perbedaan yang konsisten antar pria dan wanita dalam hal kemampuan memecahkan masalah, keterampilan analisis, dorongan kompetitif, motivasi, sosiabilitas, produktivitas pekerjaan, kepuasan kerja, atau kemampuan belajar. Namun dari sebuah hasil studi menunjukkan bahwa wanita lebih bersedia mematuhi wewenang dibandingkan pria yang lebih agresif dan lebih besar dalam memiliki pengharapan untuk sukses, namun tetap saja perbedaannya kecil Biasanya, yang membuat ada perbedaan adalah karena posisi wanita sebagai ibu yang juga harus merawat anak-anaknya. Ini juga yang mungkin menimbulkan anggapan bahwa wanita lebih sering mangkir daripada pria. Jika anak-anak sakit, tentulah ibu yang akan merawat dan menemani dirumah.
3. Ras
Ras berpengaruh dalam perilaku organisasi khususnya dalam hubungannya terhadap hasil-hasil pekerjaan seperti keutusan pemilihan personel, evaluasi kinerja, dan diskriminasi di tempat kerja. Daalam situasi pekerjaan, cenderung bagi individu untuk lebih menyukai rekan-rekan dari ras mereka sendiri dalam evaluasi kinerja, keputusan promosi, dan kenaikan gaji, tindakan afirmatif, dan perbedaan perlakuan. Dilema utama yang dihadapi para pemberi kerja yang menggunakantes kemampuan mental untuk seleksi, promosi, pelatihan, dan keputusan adalah kekhawatiran bahwa tes tersebut mungkin memiliki sebuah dampak negatif pada kelompok ras.
4. Masa Kerja
Masa jabatan bila dinyatakan sebagai pengalaman kerja akan menjadi sebuah dasar pemikiran yang baik atas produktivitas pekerjaan. Masa jabatan juga berkaitan dengan tingkat absensi dan sebuah penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa senioritas berkaitan negatif terhadap tingkat absensi. Masa jabatan juga menjelaskan tentang perputaran karyawan. Karyawan yang telah menjalankan suatu pekerjaan dalam masa tertentu produktivitas dan kepuasannya akan meningkat, sehingga kemungkinan untuk mengundurkan diri lebih kecil.
BAB 3 : Persepsi Dalam Pembuatan Keputusan Individual
PERSEPSI
Persepsi dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan –kesan indera mereka agar memberikan makna bagi lingkungan mereka. Apa yang di persepsikan seseorang dapat berbeda dari kenyataan yang obyektif. Tidak harusi demikian, tetapi sering ada ketidaksepakatan.
Mengapa persepsi itu penting? Hal ini dikarenakan perilaku orang-orang didasarkan pada persepsi mereka didasarkan pada apa persepsi mereka mengenai apa realitas yang ada. Dunia seperti yang dipersepsikan adalah dunia yang penting dari segi perilaku.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI
1. Pelaku Persepsi
Bila individu memandang sutu objek dan mencoba untuk menafsirkannya, penafsiran itu sangat dipengaruhi karakteristik pribadi dari persepsi individu tersebut . Diantara karakteristik pribadi yang lebih relevan yang mempengaruhi persepsi adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu, dan pengharapan (ekspetasi).
2. Target (objek)
Karakteristik-karakteristik dari target yang akan diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Selain itu target tidak dipandang secara terisolasi, hubungan target dengan latar belakangnya mempengaruhi persepsi. Faktor pada objek antara lain adalah hal baru, gerakan, bunyi, latar belakang, kedekatan.
3. Situasi
Penting bagi kita untuk melihat konteks objek dan peristiwa. Unsur lingkungan sangat mempengaruhi persepsi kita. Faktor yang mepengaruhi situasi adlah waktu, keadaan /tempat kerja, keadaan sosial.
Teori Atribusi
Persepsi kita terhadap orang berbeda dengan persepsi kita terhadap benda mati. Hal ini dikarenakan benda mati tidak memiliki keyakinan, motif, atau maksud. Akibatnya apabila kiata mengamati orang, kita berusaha mengembangkan penjelasan-penjelasan mengapa mereka berperilaku dengan cara-cara tertentu. Oleh karena itu persepsi dan penilaian kita terhadap tindakan seseorang akan cukup banyak dipengaruhi oleh pengandaian-pengandaian yang kita ambil mengenai keadaan internal orang itu.
Teori atribusi adalah untuk mengembangkan penjelasan dari cara-cara kita menilai orang secara berlainan, bergantung kepada makna apa yang kita hubungkan ke sutau perilaku tertentu. Pada dasarnya, teori tersebut menyarankan bahwa bila kita mengamati perlaku seseorang individu, kita berusaha menentukan apakah perilaku itu karena penyebab internal ataukah eksternal.
Penentuan tersebut sebagian besar bergantung tiga faktor yaitu :
a. Kekhususan : apakah seorang individu memperlihatkan perilaku-perilaku yang berlainan dalam situasi yang berlainan.
b. Konsensus: jika semua orang yang mengahadapi situasi yang serupa bereaksi dengan cara yang sama.
c. Konsistensi: apakah orang itu memberi reaksi dengan cara yang sama dari waktu ke waktu.
Salah satu penemuan yang paling menarik dari teori atribusi adalah bahwa ada kekeliruan atau prasangka yang menyimpang teori atribusi. Kecenderungan untuk meremehkan pengaruh faktor luar dan melebih-lebihkan faktor internal disebut kekeliruan atribusi mendasar. Individu cenderung menghubungkan sukses mereka sendiri dengan faktor internal sementara menyalahkan faktor eksternal atas kegagalan mereka. Hal ini disebut prasangka layanan diri (self serving bias).
Jalan Pintas yang Sering Digunakan dalam Menilai Orang Lain
Persepsi selektif
Orang orang secara selektif menafsirkan apa yang mereka saksikan berdasarkan kepentingan, latar belakang,pengalaman, dan sikap. Suatu contoh, lebih besar kecenderungan anda melihat motor yang mirip motor anda sendiri. Hal ini menunjukkan bagaimana kepentingan pribadi cukup mempengaruhi masalah-masalah yang kita lihat.
Efek halo
Manarik suatu kesan umum mengenai seseorang individu berdasarkan suatu karakteristik tunggal. Gejala ini sering terjadi ketika mahasiswa menilai dosen mereka di ruang kuliah. Jadi seorang dosen akan dinilai pendiam, banyak pengetahuan, populer, tetapi gayanya kurang bersemangat , ia akan dinilai lebih rendah mengenai karakteristik yang lain. Jelas, subyek-subyek membiarkan suatu ciri tunggal mempengaruhi seluruh kesan mereka dari orang-orang yang sedang dinilai.
Efek Kontras
Evaluasi atas karakteristik seseorang yang dipengaruhi oleh pembandingan dengan orang lain yang baru saja dijumpai yang berperingkat lebih tinggi atau lebih rendah pada karakteristik yang sama. Sebagai contoh, anda akan terlihat buruk apabila beradu acting dengan anak-anak. Hal ini dikarenakan penonton sangat mencintai anak-anak. Efek ini dapat memutar-balikkan persepsi. Reaksi kita terhadap satu orang sering dipengaruhi oleh orang lain yang baru saja kita jumpai.
Proyeksi
Menghubungkan karakteristiknya sendiri ke orang lain. Mudah untuk menilai orang lain jika kita mengasumsikan mereka serupa denagan kita. Kecenderungan untuk menghubungkan karakteristik sendiri kepada orang lain, dapat memutarbalilkan persepsi yang dibuat mengenai orang lain.
Berstereotipe
Menilai seseorang atas dasar persepsi seseorang terhadap kelompok itu. Sebagai contoh, andaikan anda seorang pengusaha yang sedang mencari seorang manajer. Anda mencari manjer yang suka bekerja keras dan dapat mengatasi masalah dengan baik. Di masa lalu anda memperoaeh sukses yang besar ketika mempekerjakan individu yang ikut dalam atletik ketika di universitas. Lebih jauh, sejauh para atlet itu suka bekerja keras dan adapat menangani masalah dengan baik pengambilan stereotype ini memperbaiki pengambilan keputusan anda. Tentu saja masalahnya apabila kita berstereotipe secara tidak akurat.
TAUTAN ANTARA PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDUAL
Individu-individu dalam organisasi mengambil keputusan. Yaitu, mereka membuat pilihan dari dua alternatif atau lebih. Oleh karena itu, pengambilan keputusan individual merupakan suatu bagian penting dalam perilaku organisasi. Tetapi bagaimana individu-individu dalam organisasi mengambil keputusan, dan kualitas dari pilihan terakhir mereka, sebagian besar dipengaruhi oleh persepsi-persepsi mereka.
BAGAIMANA KEPUTUSAN HENDAKNYA DIAMBIL?
Proses Pengambilan Keputusan Rasional
Pengambil keputusan yang optimal harus rasional. Artinya dia membuat pilihan memaksimalkan nilai yang konsisten daam batas-batas tertentu. Pilihan dibuat mengikuti model pengambilan keputusan rasional.
Langkah-Langkah dalam Model Pengambilan Keputusan Rasional
1. Tetapkan masalah.
2. Identifikasikan kriteria keputusan.
3. Alokasikan bobot pada kriteria.
4. Kembangkan alternatif.
5. Evaluasilah alternatif.
6. Pililah alternatif terbaik.
Meningkatkan Kreativitas dalam Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan rasional membutuhkan kreativitas. Yakni, menggabungkan gagasan dalam satu cara yang unik atau untuk membuat asosiasi- asosiasi daintara gagasan-gagasan.
Potensial Kreatif
Kebanyakan orang mempunyai potensial kreatif yang dapat mereka gunakan bila dikonfrontasikan dengan sebuah masalah dalam pengambilan keputusan. Namun untuk melepaskan potensial itu, mereka harus keluar dari kebiasaan psikologis yang kebiasaan dari kita terlibat di dalamnya dan beajar bagaimana berpikir tentang satu masalah dengan cara yang berlainan.
Metode Untuk Merangsang Kreativitas Individual
Tindakan yang sederhana dapat sangat berpengaruh untuk menginstruksi seseorang menjadi kreatif dan menghindari pendekatan yang jelas terhadap satu masalah mengahasilkan gagasan yang lebih unik. Metode ini dinamakan instruksi langsung.
Metode lain adalah penyusunan atribut. Dalam metode ini, pengambilan keputusan mengisolasikan karakteristik dari alternatif tradisional. Setiap atribut utama dari alternatif selanjutnyapada gilirannya dipertimbangkan dan diubah dalam setiap cara yang mungkin. Tidak ada gagasan yang di tolak, betapa pun tampaknya lucu.
Kreatifitas juga dapat dirangsang oleh praktik pemikiran lateral atau zig-zag. Dengan pemikiran lateral, para individu menekankan pemikiran yang tidak menekankan pada satu pola melainkan pada penyetrukturan pola. Pemikiran itu tidak harus tepat setiap langkah. Pemikiran itu secara sengaja menggunakan informasi yang acak atau tidak relevan guna membawa satu cara baru untuk melihat suatu masalah.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI
Rasionalitas terbatas
Kemampuan dari pikiran manusia untuk memformulasi dan menyelesaikan masalah yang rumit itu terlalu kecil untuk memenuhi tuntutan bagi rasionalitas penuh, para individu beroperasi dalam keterbatasan rasionalitas. Mereka merancang model-model yang disederhanakan yang menyuling ciri-ciri hakiki dari masalah-masalah tanpa menangkap semua kerumitannya. Selanjutnya para individu dapat berperilaku rasional dalam batas-batas model yang sederhana.
Salah satu aspek yang lebih menarik dari model rasionalitas terbatas itu adalah bahwaurutan di mana alternatif-alternatif dipertimbangkanbersifat kritisdalam menentukan alternatif mana yang dipilih.
Intuitif
Pengambilan keputusan intuitif, baru-baru ini mulai muncul dan mulai disegani. Para pakar tidak lagi secara otomatis mengasumsikan penggunaan intuisi untuk pengambilan keputusan sebagai tak rasional. Terdapat pengakun yang makin berkembang bahwa analisis rasional terlalu ditekankan dan bahwa, pada kasus-kasus tertentu, mengandalkan pada intuisi dapat memperbaiki pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan intuitif sebagi suatu proses tak sadar yang diciptakan dari dalam pengalaman yang tersaring. Hasilnya adalah bahwa pengambil keputuusan intuitif dapat memutuskan dengan cepat dengan informasi yang terbatas. Intuisi ini tidak harus berjalan secara tak tergantung dengan analisis rasional. Lebih lengkap keduanya saling melengkapi.
Kemungkinan terbesar untuk orang menggunakan keputusan intuitif adalah dalam delapan kondisi yaitu :
1. Bila ada ketakpastian dalamtingkat yang tinggi.
2. Bila hanya sedikit preseden (sesuatu yang bisa dijadikan teladan) untuk diikuti.
3. Bila variable-variabel kurang dapat diramalkan secara ilmiah.
4. Bila fakta terbatas.
5. Bila fakta tidak jelas menunjukkan jalan untuk diikuti.
6. Bila data analitis kurang berguna.
7. Bila ada beberapa penyelesaian alternatifyang masuk akal untuk dipilih, dengan argument yang baik untuk masing masing.
8. Bila waktu terbatas dan ada tekanan untuk segera diambil keputusan yang tepat.
Identifikasi Masalah
Masalah-masalah yang tamapak cenderung memiliki probabilitas terpilih yang lebih tinggi dibanding masalah-masalah yang penting. Hal ini dikarenakan dua hal:
1. Mudah untuk mengenal masalah-masalah yang tampak.hal ini lebih mungkin menangkap perhatian pengambil keputusan. Ini menjelaskan mengapa pemerintah lebih memperhatikan masalah kriminal daripada buta huruf.
2. Perlu diingat bahwa kita prihatin dengan pengambilan keputusan dalam organisasi. Para pengambil keputusan ingin tampil kompeten dan berada di puncak masalah. Ini memotivasi mereka untuk memusatkan perhatian yang tampak bagi orang lain.
Adalah biasa dalam kepentingan terbaik pengambil keputusan menyerang masalah-masalah yang lagi “high”. Bila kinerja pengambil keputusan itu kemudian ditinjau kembali, pengevaluasi lebih mungkin memberikan penilaian yang tinggi kepada seseorang yang secara agresif menyerang masalah-masalah yang tampak disbanding kepada seseorang yang tindakan-tindakanya kurang tampak jelas.
Pengembangan Alternatif
Karena pengambil keputusan jarang mencari sesuatu pemecahan optimum, melainkan yang agak memuaskan, kamiberharap untuk menemukan sutu penggunaan minimal atas kreatifitas dalam mencari alternatif-alternatif.
Pengambil keputusan menghindari tugas-tugas sulit yang mempertimbangkan semuasemua factor penting, menimbang relatif untung dan ruginya, serta mengkalkulasikan nilai untuk masing masing alternatif.
Pengambil keputusan mengambil langkah kecil ke arah sasarannya. Dengan mengetahui sifat komprehehsif dari seleksi pilihan, para pengambil keputusan membuat perbandingan suksesif karenakeputusan tak diambil selama-lamanya atau ditulis di atas batu, melainkan keputusan-keputusan diambil dan dibuat lagi tanpa ada habisnya dalam perbandingan kecil antara pilihan-pilihan yang sempit.
Membuat pilihan
Untuk menghindari informasi yang terlalu sarat, para pengambil keputusan mengandalkan heuristik atau jalan pintas penilaian dalam pengambilan keputusan. Ada dua kategori umum heuristik yang masing-masing menciptakan bias dalam penilaian.
• Heuristik ketersediaan: Kecenderungan begi orang untuk mendasarkan informasi yang sudah ada di tangan mereka.
• Heuristik representatif: Menilai kemungkinan dari suatu kejadian dengan menarik analogi dan melihat situasi yang identik di mana sebenarnya tidak identik.
• Peningkatan komitmen: Suatu peningkatan komitmen pada keputusan sebelumnya meskipun ada informasi negative.
Gaya Pengambilan Keputusan
• Direktif
Orang yang menggunakan gaya direktif memiliki toleransi yang rendah terhadap ambiguitas dan mencari rasionalitas. Tipe direktif mengambil keputusan yang diambil dengan cepat dan beroriaentasi jangka pendek.
• Analitik
Tipe ini memiliki toleransi yang jauh lebih besar terhadap ambiguitas disbanding pengambil keputusan direktif. Lebih banyak informasi dan pertimbangan atas alternatif yang lebih banyak ketimbang alternatif yang digunakan tipe direktif.
• Konseptual
Individu cenderung menjadi sangat luas dalam pandangan mereka dan mempertimbangkan banyak alternatif. Orientasi mereka jangka panjang dan mereka sangat baik dalam menetukan solusi yang kreatif.
• Behavior
Pengambil keputusan yang baik dengan yang lain. Mereka memperhatikan kinerja dari orang lain dan bawahannya serta reseptif terhadap usulan-usulan. Gaya manajer ini mengutamakan komunikasi dan penerimaan.
Perbedaan kultural
Kita perlu mengakui bahwa latar belakang budaya dari pengambil keputusan besar dapat member pengaruh yang besar terhadap seleksi masalahnya, kedalaman analisis, arti penting yang ditempatkan pada logika dan rasionalitas, atau apakah keputusan organisasional hendaknya diambil secara otokratis oleh seorang manajer individual atau secara kolektif dalam kelompok.
ETIKA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Tiga Kriteria Keputusan Etis
• Utilarian
Keputusan diambil atas dasar konsekuensi mereka. Tujuan kriteria ini adalah memberikan kebaikan yang terbesar untuk jumlah yang terbesar.Pandangan ini cenderung mendominasi pengambilan keputusan bisnis.
• Hak
Criteria ini menekankan pada individu untuk mengambil keputusan yang konsisten dengan kebebasan hak yang mendasar. Hal ini berarti menghormati hak dasar para individu, seperti hak berbicara dan hak untuk memperoleh pembelaan.
• Keadilan
Hal ini mensyaratkan individu untuk mengenakan dan memperkuat aturan-aturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga ada pembagian manfaat dan biaya yang pantas.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Perilaku Pengambilan-Keputusan Etis
• Tahap-tahap perkembangan moral
Adalah suatu penilaian dari kapasitas seseorang untuk menimbang secara moral. Makin tinggi perkembangan moral seseorang, makin kurang bergantung ia pada pengaruh-pengaruh luar dan, dari situ , akan makin cenderung untuk berperilaku etis.
• Tempat kedudukan kendali
Karakteristik kepribadian yang mengukur sejauh mana orang meyakini bahwa mereka bertanggung jawab untuk peristiwa-peristiwa dalam hidup mereka.
• Lingkungan organisasional
Merujuk pada persepsi karyawan mengenai pengharapan organisasional. Apakah organisasi itu mendorong perilaku yang etis atau tidak.
BAB 4 : Perilaku Organisasi Dan Metode
Perilaku Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang perilaku tingkat individu dan tingkat kelompok dalam suatu organisasi serta dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual, kelompok, maupun organisasi). Perilaku organisasi juga dikenal sebagai studi tentang organisasi. Studi ini adalah sebuah bidang telaah akademik khusus yang mempelajari organisasi, dengan memanfaatkan metode-metode dari ekonomi, sosiologi, ilmu politik, antropologi dan psikologi. Disiplin-disiplin lain yang terkait dengan studi ini adalah studi tentang sumber daya manusia dan psikologi industri.
BAB 3 : Persepsi Dalam Pembuatan Keputusan Individual
PERSEPSI
Persepsi dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan –kesan indera mereka agar memberikan makna bagi lingkungan mereka. Apa yang di persepsikan seseorang dapat berbeda dari kenyataan yang obyektif. Tidak harusi demikian, tetapi sering ada ketidaksepakatan.
Mengapa persepsi itu penting? Hal ini dikarenakan perilaku orang-orang didasarkan pada persepsi mereka didasarkan pada apa persepsi mereka mengenai apa realitas yang ada. Dunia seperti yang dipersepsikan adalah dunia yang penting dari segi perilaku.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI
1. Pelaku Persepsi
Bila individu memandang sutu objek dan mencoba untuk menafsirkannya, penafsiran itu sangat dipengaruhi karakteristik pribadi dari persepsi individu tersebut . Diantara karakteristik pribadi yang lebih relevan yang mempengaruhi persepsi adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu, dan pengharapan (ekspetasi).
2. Target (objek)
Karakteristik-karakteristik dari target yang akan diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Selain itu target tidak dipandang secara terisolasi, hubungan target dengan latar belakangnya mempengaruhi persepsi. Faktor pada objek antara lain adalah hal baru, gerakan, bunyi, latar belakang, kedekatan.
3. Situasi
Penting bagi kita untuk melihat konteks objek dan peristiwa. Unsur lingkungan sangat mempengaruhi persepsi kita. Faktor yang mepengaruhi situasi adlah waktu, keadaan /tempat kerja, keadaan sosial.
PERSEPSI ORANG
Teori Atribusi
Persepsi kita terhadap orang berbeda dengan persepsi kita terhadap benda mati. Hal ini dikarenakan benda mati tidak memiliki keyakinan, motif, atau maksud. Akibatnya apabila kiata mengamati orang, kita berusaha mengembangkan penjelasan-penjelasan mengapa mereka berperilaku dengan cara-cara tertentu. Oleh karena itu persepsi dan penilaian kita terhadap tindakan seseorang akan cukup banyak dipengaruhi oleh pengandaian-pengandaian yang kita ambil mengenai keadaan internal orang itu.
Teori atribusi adalah untuk mengembangkan penjelasan dari cara-cara kita menilai orang secara berlainan, bergantung kepada makna apa yang kita hubungkan ke sutau perilaku tertentu. Pada dasarnya, teori tersebut menyarankan bahwa bila kita mengamati perlaku seseorang individu, kita berusaha menentukan apakah perilaku itu karena penyebab internal ataukah eksternal.
Penentuan tersebut sebagian besar bergantung tiga faktor yaitu :
a. Kekhususan : apakah seorang individu memperlihatkan perilaku-perilaku yang berlainan dalam situasi yang berlainan.
b. Konsensus: jika semua orang yang mengahadapi situasi yang serupa bereaksi dengan cara yang sama.
c. Konsistensi: apakah orang itu memberi reaksi dengan cara yang sama dari waktu ke waktu.
Salah satu penemuan yang paling menarik dari teori atribusi adalah bahwa ada kekeliruan atau prasangka yang menyimpang teori atribusi. Kecenderungan untuk meremehkan pengaruh faktor luar dan melebih-lebihkan faktor internal disebut kekeliruan atribusi mendasar. Individu cenderung menghubungkan sukses mereka sendiri dengan faktor internal sementara menyalahkan faktor eksternal atas kegagalan mereka. Hal ini disebut prasangka layanan diri (self serving bias).
Jalan Pintas yang Sering Digunakan dalam Menilai Orang Lain
Persepsi selektif
Orang orang secara selektif menafsirkan apa yang mereka saksikan berdasarkan kepentingan, latar belakang,pengalaman, dan sikap. Suatu contoh, lebih besar kecenderungan anda melihat motor yang mirip motor anda sendiri. Hal ini menunjukkan bagaimana kepentingan pribadi cukup mempengaruhi masalah-masalah yang kita lihat.
Efek halo
Manarik suatu kesan umum mengenai seseorang individu berdasarkan suatu karakteristik tunggal. Gejala ini sering terjadi ketika mahasiswa menilai dosen mereka di ruang kuliah. Jadi seorang dosen akan dinilai pendiam, banyak pengetahuan, populer, tetapi gayanya kurang bersemangat , ia akan dinilai lebih rendah mengenai karakteristik yang lain. Jelas, subyek-subyek membiarkan suatu ciri tunggal mempengaruhi seluruh kesan mereka dari orang-orang yang sedang dinilai.
Efek Kontras
Evaluasi atas karakteristik seseorang yang dipengaruhi oleh pembandingan dengan orang lain yang baru saja dijumpai yang berperingkat lebih tinggi atau lebih rendah pada karakteristik yang sama. Sebagai contoh, anda akan terlihat buruk apabila beradu acting dengan anak-anak. Hal ini dikarenakan penonton sangat mencintai anak-anak. Efek ini dapat memutar-balikkan persepsi. Reaksi kita terhadap satu orang sering dipengaruhi oleh orang lain yang baru saja kita jumpai.
Proyeksi
Menghubungkan karakteristiknya sendiri ke orang lain. Mudah untuk menilai orang lain jika kita mengasumsikan mereka serupa denagan kita. Kecenderungan untuk menghubungkan karakteristik sendiri kepada orang lain, dapat memutarbalilkan persepsi yang dibuat mengenai orang lain.
Berstereotipe
Menilai seseorang atas dasar persepsi seseorang terhadap kelompok itu. Sebagai contoh, andaikan anda seorang pengusaha yang sedang mencari seorang manajer. Anda mencari manjer yang suka bekerja keras dan dapat mengatasi masalah dengan baik. Di masa lalu anda memperoaeh sukses yang besar ketika mempekerjakan individu yang ikut dalam atletik ketika di universitas. Lebih jauh, sejauh para atlet itu suka bekerja keras dan adapat menangani masalah dengan baik pengambilan stereotype ini memperbaiki pengambilan keputusan anda. Tentu saja masalahnya apabila kita berstereotipe secara tidak akurat.
TAUTAN ANTARA PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDUAL
Individu-individu dalam organisasi mengambil keputusan. Yaitu, mereka membuat pilihan dari dua alternatif atau lebih. Oleh karena itu, pengambilan keputusan individual merupakan suatu bagian penting dalam perilaku organisasi. Tetapi bagaimana individu-individu dalam organisasi mengambil keputusan, dan kualitas dari pilihan terakhir mereka, sebagian besar dipengaruhi oleh persepsi-persepsi mereka.
BAGAIMANA KEPUTUSAN HENDAKNYA DIAMBIL?
Proses Pengambilan Keputusan Rasional
Pengambil keputusan yang optimal harus rasional. Artinya dia membuat pilihan memaksimalkan nilai yang konsisten daam batas-batas tertentu. Pilihan dibuat mengikuti model pengambilan keputusan rasional.
Langkah-Langkah dalam Model Pengambilan Keputusan Rasional
1. Tetapkan masalah.
2. Identifikasikan kriteria keputusan.
3. Alokasikan bobot pada kriteria.
4. Kembangkan alternatif.
5. Evaluasilah alternatif.
6. Pililah alternatif terbaik.
Meningkatkan Kreativitas dalam Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan rasional membutuhkan kreativitas. Yakni, menggabungkan gagasan dalam satu cara yang unik atau untuk membuat asosiasi- asosiasi daintara gagasan-gagasan.
Potensial Kreatif
Kebanyakan orang mempunyai potensial kreatif yang dapat mereka gunakan bila dikonfrontasikan dengan sebuah masalah dalam pengambilan keputusan. Namun untuk melepaskan potensial itu, mereka harus keluar dari kebiasaan psikologis yang kebiasaan dari kita terlibat di dalamnya dan beajar bagaimana berpikir tentang satu masalah dengan cara yang berlainan.
Metode Untuk Merangsang Kreativitas Individual
Tindakan yang sederhana dapat sangat berpengaruh untuk menginstruksi seseorang menjadi kreatif dan menghindari pendekatan yang jelas terhadap satu masalah mengahasilkan gagasan yang lebih unik. Metode ini dinamakan instruksi langsung.
Metode lain adalah penyusunan atribut. Dalam metode ini, pengambilan keputusan mengisolasikan karakteristik dari alternatif tradisional. Setiap atribut utama dari alternatif selanjutnyapada gilirannya dipertimbangkan dan diubah dalam setiap cara yang mungkin. Tidak ada gagasan yang di tolak, betapa pun tampaknya lucu.
Kreatifitas juga dapat dirangsang oleh praktik pemikiran lateral atau zig-zag. Dengan pemikiran lateral, para individu menekankan pemikiran yang tidak menekankan pada satu pola melainkan pada penyetrukturan pola. Pemikiran itu tidak harus tepat setiap langkah. Pemikiran itu secara sengaja menggunakan informasi yang acak atau tidak relevan guna membawa satu cara baru untuk melihat suatu masalah.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI
Rasionalitas terbatas
Kemampuan dari pikiran manusia untuk memformulasi dan menyelesaikan masalah yang rumit itu terlalu kecil untuk memenuhi tuntutan bagi rasionalitas penuh, para individu beroperasi dalam keterbatasan rasionalitas. Mereka merancang model-model yang disederhanakan yang menyuling ciri-ciri hakiki dari masalah-masalah tanpa menangkap semua kerumitannya. Selanjutnya para individu dapat berperilaku rasional dalam batas-batas model yang sederhana.
Salah satu aspek yang lebih menarik dari model rasionalitas terbatas itu adalah bahwaurutan di mana alternatif-alternatif dipertimbangkanbersifat kritisdalam menentukan alternatif mana yang dipilih.
Intuitif
Pengambilan keputusan intuitif, baru-baru ini mulai muncul dan mulai disegani. Para pakar tidak lagi secara otomatis mengasumsikan penggunaan intuisi untuk pengambilan keputusan sebagai tak rasional. Terdapat pengakun yang makin berkembang bahwa analisis rasional terlalu ditekankan dan bahwa, pada kasus-kasus tertentu, mengandalkan pada intuisi dapat memperbaiki pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan intuitif sebagi suatu proses tak sadar yang diciptakan dari dalam pengalaman yang tersaring. Hasilnya adalah bahwa pengambil keputuusan intuitif dapat memutuskan dengan cepat dengan informasi yang terbatas. Intuisi ini tidak harus berjalan secara tak tergantung dengan analisis rasional. Lebih lengkap keduanya saling melengkapi.
Kemungkinan terbesar untuk orang menggunakan keputusan intuitif adalah dalam delapan kondisi yaitu :
1. Bila ada ketakpastian dalamtingkat yang tinggi.
2. Bila hanya sedikit preseden (sesuatu yang bisa dijadikan teladan) untuk diikuti.
3. Bila variable-variabel kurang dapat diramalkan secara ilmiah.
4. Bila fakta terbatas.
5. Bila fakta tidak jelas menunjukkan jalan untuk diikuti.
6. Bila data analitis kurang berguna.
7. Bila ada beberapa penyelesaian alternatifyang masuk akal untuk dipilih, dengan argument yang baik untuk masing masing.
8. Bila waktu terbatas dan ada tekanan untuk segera diambil keputusan yang tepat.
Identifikasi Masalah
Masalah-masalah yang tamapak cenderung memiliki probabilitas terpilih yang lebih tinggi dibanding masalah-masalah yang penting. Hal ini dikarenakan dua hal:
1. Mudah untuk mengenal masalah-masalah yang tampak.hal ini lebih mungkin menangkap perhatian pengambil keputusan. Ini menjelaskan mengapa pemerintah lebih memperhatikan masalah kriminal daripada buta huruf.
2. Perlu diingat bahwa kita prihatin dengan pengambilan keputusan dalam organisasi. Para pengambil keputusan ingin tampil kompeten dan berada di puncak masalah. Ini memotivasi mereka untuk memusatkan perhatian yang tampak bagi orang lain.
Adalah biasa dalam kepentingan terbaik pengambil keputusan menyerang masalah-masalah yang lagi “high”. Bila kinerja pengambil keputusan itu kemudian ditinjau kembali, pengevaluasi lebih mungkin memberikan penilaian yang tinggi kepada seseorang yang secara agresif menyerang masalah-masalah yang tampak disbanding kepada seseorang yang tindakan-tindakanya kurang tampak jelas.
Pengembangan Alternatif
Karena pengambil keputusan jarang mencari sesuatu pemecahan optimum, melainkan yang agak memuaskan, kamiberharap untuk menemukan sutu penggunaan minimal atas kreatifitas dalam mencari alternatif-alternatif.
Pengambil keputusan menghindari tugas-tugas sulit yang mempertimbangkan semuasemua factor penting, menimbang relatif untung dan ruginya, serta mengkalkulasikan nilai untuk masing masing alternatif.
Pengambil keputusan mengambil langkah kecil ke arah sasarannya. Dengan mengetahui sifat komprehehsif dari seleksi pilihan, para pengambil keputusan membuat perbandingan suksesif karenakeputusan tak diambil selama-lamanya atau ditulis di atas batu, melainkan keputusan-keputusan diambil dan dibuat lagi tanpa ada habisnya dalam perbandingan kecil antara pilihan-pilihan yang sempit.
Membuat pilihan
Untuk menghindari informasi yang terlalu sarat, para pengambil keputusan mengandalkan heuristik atau jalan pintas penilaian dalam pengambilan keputusan. Ada dua kategori umum heuristik yang masing-masing menciptakan bias dalam penilaian.
• Heuristik ketersediaan: Kecenderungan begi orang untuk mendasarkan informasi yang sudah ada di tangan mereka.
• Heuristik representatif: Menilai kemungkinan dari suatu kejadian dengan menarik analogi dan melihat situasi yang identik di mana sebenarnya tidak identik.
• Peningkatan komitmen: Suatu peningkatan komitmen pada keputusan sebelumnya meskipun ada informasi negative.
Gaya Pengambilan Keputusan
• Direktif
Orang yang menggunakan gaya direktif memiliki toleransi yang rendah terhadap ambiguitas dan mencari rasionalitas. Tipe direktif mengambil keputusan yang diambil dengan cepat dan beroriaentasi jangka pendek.
• Analitik
Tipe ini memiliki toleransi yang jauh lebih besar terhadap ambiguitas disbanding pengambil keputusan direktif. Lebih banyak informasi dan pertimbangan atas alternatif yang lebih banyak ketimbang alternatif yang digunakan tipe direktif.
• Konseptual
Individu cenderung menjadi sangat luas dalam pandangan mereka dan mempertimbangkan banyak alternatif. Orientasi mereka jangka panjang dan mereka sangat baik dalam menetukan solusi yang kreatif.
• Behavior
Pengambil keputusan yang baik dengan yang lain. Mereka memperhatikan kinerja dari orang lain dan bawahannya serta reseptif terhadap usulan-usulan. Gaya manajer ini mengutamakan komunikasi dan penerimaan.
Perbedaan kultural
Kita perlu mengakui bahwa latar belakang budaya dari pengambil keputusan besar dapat member pengaruh yang besar terhadap seleksi masalahnya, kedalaman analisis, arti penting yang ditempatkan pada logika dan rasionalitas, atau apakah keputusan organisasional hendaknya diambil secara otokratis oleh seorang manajer individual atau secara kolektif dalam kelompok.
ETIKA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Tiga Kriteria Keputusan Etis
• Utilarian
Keputusan diambil atas dasar konsekuensi mereka. Tujuan kriteria ini adalah memberikan kebaikan yang terbesar untuk jumlah yang terbesar.Pandangan ini cenderung mendominasi pengambilan keputusan bisnis.
• Hak
Criteria ini menekankan pada individu untuk mengambil keputusan yang konsisten dengan kebebasan hak yang mendasar. Hal ini berarti menghormati hak dasar para individu, seperti hak berbicara dan hak untuk memperoleh pembelaan.
• Keadilan
Hal ini mensyaratkan individu untuk mengenakan dan memperkuat aturan-aturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga ada pembagian manfaat dan biaya yang pantas.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Perilaku Pengambilan-Keputusan Etis
• Tahap-tahap perkembangan moral
Adalah suatu penilaian dari kapasitas seseorang untuk menimbang secara moral. Makin tinggi perkembangan moral seseorang, makin kurang bergantung ia pada pengaruh-pengaruh luar dan, dari situ , akan makin cenderung untuk berperilaku etis.
• Tempat kedudukan kendali
Karakteristik kepribadian yang mengukur sejauh mana orang meyakini bahwa mereka bertanggung jawab untuk peristiwa-peristiwa dalam hidup mereka.
• Lingkungan organisasional
Merujuk pada persepsi karyawan mengenai pengharapan organisasional. Apakah organisasi itu mendorong perilaku yang etis atau tidak.
BAB 4 : Perilaku Organisasi Dan Metode
Perilaku Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang perilaku tingkat individu dan tingkat kelompok dalam suatu organisasi serta dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual, kelompok, maupun organisasi). Perilaku organisasi juga dikenal sebagai studi tentang organisasi. Studi ini adalah sebuah bidang telaah akademik khusus yang mempelajari organisasi, dengan memanfaatkan metode-metode dari ekonomi, sosiologi, ilmu politik, antropologi dan psikologi. Disiplin-disiplin lain yang terkait dengan studi ini adalah studi tentang sumber daya manusia dan psikologi industri.



Jumat, Maret 20, 2015
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar